Mesir kuno tak hanya memumikan manusia, tapi juga hewan. Bahkan buaya besar tak luput dari bagian proses tersebut. Salah satu di antaranya baru-baru ini diteliti di Rijksmuseum van Oudheden dan penelitinya terperangah dengan apa yang mereka lihat.

Menurut keterangan media yang dikeluarkan Rijksmuseum van Oudheden, mumi sepanjang tiga meter diperiksa dengan menggunakan CT scan 3D. Hasil terbaru menunjukkan–sebelumnya pernah dilakukan pemindaian pada 1996– selain terdapat dua buaya, mumi itu juga berisi puluhan bayi buaya yang dibungkus secara individual.

Penemuan tersebut merupakan kejutan besar bagi pihak museum, terutama karena mumi itu merupakan contoh sangat jarang dari mumifikasi buaya. Selain itu, hasil pemindaian memperlihatkan terdapat jimat di dalam kain pembungkus, yang membantu para peneliti memahami lebih lanjut tentang mumi hewan.

Dikutip dari Ancient Origins, Jumat (18/11/2016), Ahli Mesir Kuno yang bekerja di museum memperkirakan bahwa buaya tersebut dimumikan bersama karena tradisi agama Mesir Kuno yang terkait dengan peremajaan dan kehidupan setelah kematian.

Di samping itu terdapat penjelasan lain, di mana orang Mesir kuno yang sedang membutuhkan persembahan kepada Dewa Sobek tak menemukan buaya besar. Oleh sebab itu, mereka memutuskan untuk menggabungkan dua ekor buaya, potongan kayu, tanaman, tali, dan gumpalan kain.

Sobek, yang merupakan Dewa Sungai Nil, tentara, buaya, dan kesuburan, merupakan sosok yang sangat populer sejak Kerajaan Lama Mesir. Ia dianggap sebagai pelindung kota Crocodilopolis, atau dikenal sebagai Shedet oleh orang Mesir.

Sobek dideskripsikan sebagai dewa yang agresif dan ganas, yang kepribadiannya seperti buaya Nil terbesar pada zaman kuno. Salah satu pusat kultus paling megahnya terletak di Kom Ombo, Mesir selatan.

Mumi hewan merupakan bagian yang menarik dari sejarah Mesir kuno. Pada 2015, sebuah tim peneliti menemukan sebuah kuburan hewan yang sangat besar.

“Dalam apa yang digambarkan sebagai “rahasia gelap” Mesir, 70 juta mumi hewan ditemukan di sejumlah katakomba (ruangan bawah tanah) di seluruh Mesir, termasuk kucing, burung, tikus, bahkan buaya,” jelas Liz Leafloor pada Mei 2015 kepada Ancient Origins.

“Tapi kejutan menunggu tim riset ketika mereka memindai mumi berbentuk binatang dan menemukan banyak di antaranya yang kosong!” ujar Leafloor.

Leafloor menulis bahwa tim radiografi dan ahli Mesir Kuno dari University of Manchester menggunakan teknologi pencitraan medis terbaru untuk memindai ratusan mumi yang didapatkan dari tiga puluh situs di seluruh Mesir selama Abad ke-19 dan 20.

Ia menambahkan, University of Manchester menggunakan CT scan dan Sinar-X untuk melihat 800 mumi, yang berasal antara 1000 SM dan 400 Masehi.
(liputan6)