Dalam banyak hal, zebra sangat mirip dengan kuda dan keledai. Namun, tidak seperti para sepupunya yang sudah memiliki banyak peran untuk kehidupan manusia, zebra justru seolah enggan untuk didomestikasi.

Meskipun kuda, keledai, dan zebra semua berevolusi dari nenek moyang yang sama (Hyracotherium) yang hidup di Eropa dan Amerika Utara sekitar 55 juta tahun lalu, zebra lebih memiliki banyak kesamaan dibanding dengan kuda.

Nenek moyang liar dari kuda domestik saat ini (Equus ferus) pertama kali didomestikasi di barat Eurasia Steppe, daerah di mana bukti arkeologi paling awal untuk kuda peliharaan ditemukan. Penelitian terbaru juga menunjukkan kawanan domestikasi dilakukan berulang kali.

Kuda-kuda ini awalnya disimpan sebagai hewan makanan. Namun, perlahan manusia menemukan potensi penuh mereka sebagai sarana transportasi, komunikasi dan peperangan mengakibatkan mereka menjadi semakin penting dalam perkembangan peradaban manusia.

Jadi, jika kuda begitu penting untuk peradaban manusia, mengapa tidak dengan zebra? Pertanyaan yang layak diajukan kepada para leluhur manusia di Afrika.

Berbeda dengan equids dari Eurasia, bagaimanapun, populasi zebra Afrika relatif aman dan menyesuaikan diri dengan sangat baik dengan lingkungannya. Semua equids adalah spesies herbivora dengan berkembang dengan respon “fight or flight”.

Tapi untuk bertahan hidup dalam lingkungan di mana ada banyak predator besar termasuk singa, cheetah dan hyena, zebra berkembang menjadi sangat waspada, mereka sangat responsif untuk melarikan diri ketika mencium bahaya, juga responsif untuk melawan ketika tertangkap pemangsa.

Tendangan dari zebra dapat mematahkan rahang singa. Mereka bisa menjadi pengigit buas dan memiliki refleks “merunduk” yang membantu mereka menghindari tertangkap oleh laso. Keakraban dengan pemburu manusia juga mungkin telah membantu perkembangan respon penghindaran kuat di zebra.

Hal ini mendorong zebra emnjadi hewan yang benar-benar tidak ramah pada manusia, sebuah spesifikasi yang membuat mereka sulit untuk didomestikasi. Persyaratan hewan layak didomestikasi lain menurut penjelajah Inggris Francis Galton (kerabat Charles Darwin), serpeti keinginan untuk kenyamanan, mudah menjadi jinak, menjadi berguna, dan menunjukkan kesukaan kepada manusia juga tidak muncul pada zebra.

Galton sendiri menggunakan zebra sebagai contoh dari spesies yang tidak dapat diatur, yang menyatakan bahwa seorang dari Belanda, Boer, berulang kali mencoba untuk menjinakan zebra. Meskipun mereka memiliki beberapa keberhasilan, sifat liar dan keras kepala dari binatang ini pada akhirnya menggagalkan upaya mereka.

Meskipun tampaknya mungkin untuk menjinakkan beberapa zebra, spesies ini bukan calon yang baik untuk didomestikasi. Selain sifat keras dan naluri bertahan hidup yang kuat dari zebra, fakta bahwa spesies ini adalah ” pakan ternak singa ” mungkin juga telah membuat mereka tampil kurang menarik untuk para manusia purba.
(intisari)