Lebih dari 66 juta tahun lalu, seekor dinosaurus berbulu, dengan sepasang kaki kurus dan tulang yang menonjol di atas kepalanya, terjebak di tengah lumpur.

Hewan malang itu berjuang mati-matian untuk bebas dari kubangan tanah basah itu, hingga akhirnya ia menyerah dan mati. Bangkainya kemudian membatu. Menjadi fosil.

Dinosaurus yang ukurannya sebesar keledai, yang dikenal sebagai oviraptorosaurus (makhluk purba yang mirip burung), terawetkan dalam kondisi nyaris utuh. Ia ditemukan dalam kondisi terbaring, bagian dada menempel di tanah, sementara leher dan sayapnya terentang tegang.

Seperti halnya oviraptorosaurus lainnya — yang adalah sepupu dekat burung modern — mereka tak bisa terbang, namun memiliki paruh tajam tak bergigi yang bisa melahap kerang, tanaman, kacang-kacangan, juga telur.

“Postur makhluk itu — dengan kepala berdiri, sayap yang terentang di masing-masing sisinya — menunjukkan seolah-olah ia sedang berusaha melepaskan diri,” kata salah satu ahli palaeontologi dari University of Edinburgh, Steve Brusatte seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Jumat (11/11/2016).

“Tanda-tanda itu membuat kami berpikir, ia terjebak dalam lumpur dan mencoba untuk keluar.”

Fosil tersebut ditemukan para pekerja konstruksi China beberapa tahun lalu di Provinsi Jiangxi.

Para pekerja nyaris meledakkan fosil itu hingga berkeping-keping menggunakan dinamit. Kala itu, mereka sedang memasang bahan peledak dalam proses membangun fondasi bangunan sebuah SMA.

“Dinamit menghancurkan sedikit bagian belakang fosil, namun untungnya bagian lainnya selamat,” tambah Brusatte. “Kita nyaris tak akan pernah tahu keberadaan dinosaurus itu.”

Para pekerja konstruksi kemudian memberitahukan temuannya pada pihak museum. Para ahli palaeontologi China lalu memeriksanya. Temuan tersebut kemudian dimuat dalam jurnal ilmiah Nature Scientific.

Karena kematiannya di tengah lumpur, para peneliti menamakannya Tongtianlong limosus — yang bisa diartikan ‘naga berlumpur dalam perjalanan ke dunia lain’ (muddy dragon on the road to heaven).

Brusatte menambahkan, ukuran Tongtianlong limosus mirip sapi atau keledai.

“Pada dasarnya mereka adalah kelompok terakhir dinosaurus yang berkembang sebelum hantaman asteroid,” kata dia.

Para peneliti dari China dan Inggris berpendapat, fosil tersebut punya arti penting untuk memberikan wawasan terkait transisi evolusioner dari dinosaurus ke burung.

Karena,”burung modern berasal dari dinosaurus,” kata Brusatte seperti dikutip dari BBC.

“Dinosaurus seperti Tongtianlong memberikan petunjuk terkait nenek moyang burung modern,” tambah dia.
(liputan6)