Setiap musim gugur, belut di Eropa akan bermigrasi dari sungai-sungai menuju Samudera Atlantik. Perjalanan itu dilakukan agar belut dapat bertelur untuk pertama kalinya, sebelum akhirnya hewan itu mati.

Perjalanan yang ditempuh tidak sama ‘enaknya’ dengan bertelur massal seperti layaknya ikan lain di musim semi. Banyak perjuangan yang harus ditempuh belut itu untuk mencapai tempat pembuahan.

“Kisah migrasi belut merupakan kisah yang ‘romantis’,” ujar Ketua Penelitian di Pusat Lingkungan, Perikanan, dan Budidaya Sains, David Righton.

Menurut hasil penelitian yang dikutip dari BBC, Kamis (6/10/2016), belut dapat berenang lebih dari jarak 4.800 kilometer menuju Laut Sargasso.

Berikut Eropa merupakan salah satu binatang laut yang masuk ke dalam daftar hewan laut hampir punah (wikipedia).

“Belut hanya bertelur sekali seumur hidup. Setelah itu mereka akan mati. Jadi perjalanan jauh menuju Laut Sargossa merupakan perjalanan menuju ‘tujuan hidup’ mereka,” kata Righton.

Kisah hidup belut membuat para peneliti terpukau. Bahkan seorang filsuf Yunani, Aristoteles, merenungkan pertanyaan seputar asal usul datangnya belut. Ia kemudian menyimpulkan bahwa binatang licin itu secara ‘spontan’ keluar dari lumpur.

Hampir 100 tahun yang lalu tujuan akhir tempat belut Eropa bertelur ditemukan. Adalah Laut Sargasso yang terletak di barat Atlantik, dekat dengan Bahama.

Penemuan ini menyebabkan munculnya asumsi bahwa semua belut menempuh jalan pintas dan jalur tercepat untuk melintasi lautan dari sungai dan perairan air tawar lainnya.

“Apa yang kami temukan sebenarnya adalah hanya beberapa belut mengambil jalur yang berbelit-belit menuju Laut Sargasso,” kata Righton.

“Kami menduga mungkin belut memiliki strategi sehingga ada yang beberapa sampai di tujuan lebih cepat, sementara yang lainnya membutuhkan waktu yang lebih lama karena perjalanan yang panjang, berbelok-belok, bahkan mendapat kesempatan untuk bertelur hampir satu tahun berikutnya,” jelas peneliti itu.

Setelah melakukan pembuahan di Laut Sargasso, belut-belut yang telah lahir akan kembali melakukan perjalanan menuju sungai di Eropa. Belut-belut kecil itu mencapai Eropa dengan ‘melayang’ melintasi Atlantik selama dua atau tiga tahun.

Ketika mereka tumbuh menjadi belut dewasa — berukuran hingga sepanjang satu meter — mereka akan kembali meninggalkan Eropa dan kembali ke ‘kampung halaman’.

Belut itu tidak pernah terlihat kembali lagi. Hal tersebut terjadi karena, setelah bertelur mereka akan mati. Jadi setiap datang musimnya, belut yang kembali ke Eropa adalah ‘pendatang’ baru.

Sampai saat ini, peneliti masih mengalami kesulitan mempelajari sistem migrasi belut melewati lautan. Para peneliti bahkan membuat peta perjalanan migrasi belut menuju Laut Sargasso.

Peta tersebut mereka runut berdasarkan hasil penelitian terhadap lima lokasi habitat belut di seluruh Eropa.

Hasil penelitian para ilmuwan selama lima tahun menunjukkan bahwa belut bermigrasi ke Sergossa antara Agustus dan Desember.

Namun, mereka masih belum bisa menentukan waktu dan kecepatan migrasi. Hal tersebut diakibatkan oleh variasi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Laut Sargossa, di musim semi, atau pada musim selanjutnya.

Selain itu, ikan-ikan itu juga mendapatkan ancaman selama mereka bermigrasi. Pembangkit listrik tenaga air, penyakit, parasit, eksploitasi, perdagangan, polusi, predator, dan hilangnya habitat mereka menjadi alasan mengapa belut Eropa dikategorikan sebagai hewan yang hampir punah.

Menanggapi hal tersebut, beberapa kelompok mencoba untuk merencanakan peningkatan angka populasi belut di Eropa.

Peneliti berpendapat bahwa laju dan strategi migrasi yang mereka rencanakan dapat membantu meningkatkan pengetahuan dasar mengenai migrasi belut Eropa.
(liputan6)