Setelah berada di toko atau fotonya diunggah di sosial media untuk dijual, terkadang pembeli tak memikirkan latar belakang para anak anjing yang diperjualbelikan. Padahal bisa saja mereka didapat dari perdagangan ilegal, seperti yang terjadi di Skotlandia baru-baru ini.

Dalam waktu satu bulan, organisasi penyelamat hewan dari Scottish SPCA sudah dua kali memergoki truk di Pelabuhan Cairnryan, Skotlandia, yang berisi puluhan anak anjing dengan kondisi mengenaskan. Mereka ditumpuk satu sama lain, berwajah ketakutan, dan kesehatan mereka memprihatinkan. Anak-anak itu diduga dikirimkan dari Irlandia, dan rencananya akan segera dijual.

Bisnis penjualan anjing di Skotlandia merupakan bisnis besar yang sangat menguntungkan. Dalam setahun bisa ribuan anjing didatangkan secara ilegal untuk dijual. Di negara-negara ‘penghasil’ anjing, sering kali ditemukan ‘pabrik’ anjing, dimana anjing dipaksa kawin dan berketurunan. Tak lama setelah kelahiran, anak-anak anjing itu langsung dikirim demi meminimalisasi biaya ‘produksi’. Satu ekor anak anjing dapat dijual dengan harga lebih dari Rp 13 juta. Biasanya para pembeli pun tak terlalu peduli untuk menanyakan latar belakang anjing yang akan dibeli, sehingga bisnis jual beli anak anjing pun sangat aman.

Carmel Murray, juru bicara dari SPCA di Irlandia, menghimbau masyarakat penyuka anjing agar mengutamakan adopsi dibanding dengan membeli anjing. Sehingga dapat mencegah terjadinya kekerasan atau penyiksaan pada anjing, serta menjaga populasi hewan tersebut. Sehingga mereka bisa hidup lebih sejahtera. Adapun nasib puluhan anak anjing yang ditemukan, kini mereka kembali ke Irlandia dan telah mendapatkan rumah serta keluarga yang berkomitmen untuk menyayangi dan melindungi mereka selamanya, tanpa melalui transaksi jual beli.

  • DoselBEN

    Don’t shop, ADOPT!