Setiap individu selalu memiliki bakat masing-masing, tak terkecuali anjing. Dagger II, anjing yang dimiliki oleh Yvonne Dagger di Long Island, New York, ini pernah mengikuti latihan sebagai anjing penuntun atau service dog yang membantu orang tunanetra ataupun lansia dan difabel. Namun sayang, Dagger II tak pernah lulus. 

Meski sebagian besar anjing jenis labrador berbakat menjadi seekor anjing penuntun, ternyata Dagger II lebih tertarik memerhatikan Yvone melukis. Ekornya selalu bergerak gembira dan beberapa kali ia berusaha memegang kuas dengan mulutnya. Melihat minat Dagger II terhadap lukisan, Yvone pun kemudian menolongnya dengan mengajari cara “memegang” kuas  yang benar dan mengusapkannya di atas kanvas. Yvone juga menyiapkan kanvas untuk Dagger II berlatih, termasuk beberapa warna yang bisa dipilih sesuka hati. Adapun warna yang diberikan Yvone adalah pewarna jenis akrilik yang tak beracun, sehingga aman jika tak sengaja terjilat Dagger II.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Dagger II untuk menguasai teknik melukis, ia juga paham dengan teknik pewarnaan, dan menuangkan segala inspirasinya di atas kanvas yang biasanya berukuran 41 cm  x 51 cm. Uniknya, hasil lukisan Dagger II tak pernah sama. Ia mampu membangun kreativitas dalam setiap hasil karyanya.

Kepiawaian anjing berumur 3 tahun itu melukis dengan cepat dikenal banyak orang melalui internet, Yvone sendiri mengaku kalah tenar dengan Dagger II, hehehe. Malah sekarang lukisan Dagger II sudah banyak dipesan orang dan dihargai sekitar Rp 600 sampai jutaan. Hasil penjualan dari setiap lukisan disumbangkan Dagger II pada Canine Companions for Independence, tempat pelatihan anjing penuntun, dimana Dagger II pun pernah berlatih di sana. Namun Dagger II memang tidak berbakat dengan profesi tersebut, ia lebih senang menjadi seniman 🙂