Sekitar 16 tahun lalu, Kellen melihat kucing berbulu putih tak terurus di sebuah penampungan lokal. Ia merasa iba, terlebih setelah ia tahu bahwa kuing itu tuli sejak lahir, maka Kellen mengadopsinya. Lalu ia memberi nama, Darwin.

Bertahun-tahun Darwin hidup bahagia bersama ibunya, serta kucing sahabatnya di rumah, Piper. Sang ibu sangat memahami Darwin yang begitu senang bersosialisasi dengan manusia dan sesama kucing, juga bermain di luar. Maka ia sering mengajak Darwin bermain di taman.

Photo by Kellen

Tak hanya manusia dan sesama hewan, Darwin pun tak segan menyapa pepohonan. Darwin begitu supel dan ramah. Tak terasa usia Darwin sudah 17 tahun. Tetapi Darwin tetaplah bayi kucing yang lucu dan menggemaskan bagi ibunya.

Photo by Kellen

 

Ternyata seorang nenek asal Uzbekistan bernama Lida pun merasakan hal yang sama. Darwin tak pernah tua, sehingga Lida pun seakan lupa jika usianya 85 tahun. Pertemuan pertama dengan Darwin terjadi saat kucing putih itu bermain di taman. Lida tak terlalu memedulikan kehadiran Darwin sampai Kellen meminta Lida untuk membelainya, karena Darwin tampak ingin berkenalan.

Photo by Kellen

Keajaiban dirasakan oleh Lida. Bulu lembut dan sikap Darwin langsung membuat Lida jatuh hati. Bahkan Lida tak menyadari dirinya mengajak Darwin bicara hingga bergulingan di rumput bersama. Darwin benar-benar mengubah hidup Lida saat itu. Diakui Lida, di usianya yang telah lanjut baru di hari pertemuannya dengan Darwin ia merasa muda kembali.

Photo by Kellen

Tanpa terasa Lida bermain bersama Darwin cukup lama sampai saatnya Darwin pulang. Kellen sengaja memberikan alamat rumah pada Lida agar si nenek bisa bermain dengan Darwin kapanpun. Lida juga baru menyadari bahwa usia Darwin ternyata sudah cukup lanjut bagi seekor kucing, tetapi Darwin seolah mengajarkan Lida agar tidak mempermasalahkan usia untuk menikmati hidup. Jika Darwin bisa selalu merasa muda, mengapa Lida tidak?

Photo by Kellen