Rumah tangga Yuan Liangquan yang tinggal di desa Jimiao Kota Jining, Provinsi Shandong, Cina mulanya baik-baik saja. Hingga kemudian sang istri berperilaku aneh, terkadang berbicara sendiri, tertawa dan menangis tanpa sebab. Liangquan mencoba membawanya berobat, namun ia tak memiliki cukup uang untuk meneruskan pengobatan. Maka ia berinisiatif mengurung istrinya di dalam rumah agar tidak kabur dari rumah. Tak hanya sang istri, Liangquan pun mengurung anaknya, Yuan Jiankang, yang ia duga mengalami penyakit seperti ibunya.

Bertahun-tahun berada di bawah pengawasan sang ibu yang mengalami gangguan jiwa membuat Jiankang tidak tumbuh seperti anak-anak lainnya. Ia tak dapat berkomunikasi, dan melakukan tindakan yang aneh seperti minum dari ember dan sebagainya. Sementara sang ayah yang hanya pekerja serabutan tak dapat berbuat apa-apa, terkadang untuk makan pun mereka dapat dari uluran tangan para tetangga.

Kini Jiankang berumur 12 tahun, berarti ia telah terkurung sekitar 8 tahun. Ia tak pernah mendapatkan ASI saat ia bayi, melainkan susu yang dibeli ayahnya di warung. Ia pun tak memperoleh asupan gizi yang cukup dalam masa pertumbuhannya. Baru-baru ini pemerintah mengulurkan bantuan dengan membawa Jiankang ke Pusat Cacat Mental Anak di Kota Jinan untuk mendapat perawatan. Perkembangan fungsi sosial Jiankang cukup baik, menandakan ia sebenarnya tak mengalami gangguan jiwa seperti ibunya, Jiangkang dapat hidup normal. Dan yang menggembirakan Zhang Ailing dari Pusat Cacat Mental Anak menyatakan akan mengusahakan yang terbaik bagi Jiankang agar dapat membantu dan memberinya kembali masa kecil yang layak dan bahagia.

Tumbuh kembang anak sebenarnya sangat dipengaruhi oleh orangtuanya