Saat mendarat di Bandara Karachi, Pakistan, pesawat Pan Am Penerbangan 73 dari India menuju Amerika yang mengangkut 361 penumpang dan 19 awak menjadi target pembajakan. Hari itu, 5 September 1986, Neerja Bhanot menjalankan tugas pertamanya sebagai pramugari senior di pesawat tersebut. Ia memperingatkan awak pesawat yang ada di kokpit, saat pembajak dari kelompok Abu Nidal memasuki kabin. 

Berkat Neerja, maka pilot, kopilot, dan teknisi pesawat berhasil kabur sehingga pesawat tak bisa diterbangkan. Pembajak kemudian menembak seorang warga Amerika dan melemparkan jasadnya keluar pesawat, lalu memerintahkan Neerja mengumpulkan paspor para penumpang agar mereka dapat mengidentifikasi warga Amerika. Namun diam-diam Neerja menyembunyikan paspor 41 warga Amerika, sekaligus menyelamatkan mereka dari ancaman pembunuhan.

Drama penyanderaan pesawat tersebut berlangsung 17 jam, diselingi aksi Neerja yang diam-diam menyembunyikan pesan diantara lembaran majalah saat ia menolong penumpang untuk keluar dari perosotan darurat. Neerja bisa saja menjadi orang pertama yang menyelamatkan diri, tetapi itu tidak dilakukannya. Ia malah memandu penumpang untuk keluar, dan berpesan agar segera berlari setiba di bawah. 

Dari 380 penumpang, Neerja berhasil menyelamatkan 359 orang. Ia sendiri tewas diberondong peluru ketika melindungi dua orang anak dari tembakan pembajak. Usia Neerja hampir 23 tahun bila ia hidup dua hari lagi, namun ia tewas dalam tugasnya. Kepahlawanan Neerja didokumentasikan dalam film yang diberi judul sesuai namanya. Dan beberapa tahun kemudian setelah peristiwa tersebut, seorang dari dua anak yang dilindunginya saat ia tewas menjadi seorang pilot maskapai penerbangan besar. Ia tak pernah lupa sosok pramugari cantik, murah senyum dan berjiwa heroik yang pernah menyelamatkannya.