Malam itu Ashley Guindon menjawab sebuah panggilan lewat telepon dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di rumah Ronald Hamilton. Sebagai anggota kepolisian, Ashley dan dua rekannya langsung berangkat menuju lokasi. Seandainya saja Ashley tak ikut berangkat, mungkin Ashley akan berhasil melewati hari pertamanya bertugas di lapangan. Namun siapapun tak dapat menghindari ajal, Ashley tak menduga jika Hamilton yang merupakan seorang tentara berpangkat sersan yang ditugaskan sebagai staf di Pentagon, memegang senjata lalu menembaknya. Ashley tewas.

Ashley Guindon, berumur 29 tahun, merupakan anak satu-satunya di keluarga, ia lulusan Embry-Riddle Aeronautical University di Daytona Beach, Florida, yang memperoleh gelar sarjana aeronautika. Ia memiliki lisensi penerbangan, dan pernah ditugaskan di unit Bolling Air Force Base, lalu bertugas di AS Korps Marinir Reserve dan kemudian menjadi polwan di Prince William County, Virginia, dimana hidupnya berakhir.
Di akun sosial media milik Ashley yang awalnya dipenuhi ucapan dari teman-temannya untuk menyampaikan selamat bertugas, kemudian berubah dengan ucapan bela sungkawa. Ironisnya tragedi tersebut bukanlah kejadian pertama yang membuat keluarga Ashley sangat terpukul. Sebelumnya, 2 tahun lalu ayah Ashley pun meninggal dunia akibat bunuh diri, sesaat setelah sang ayah yang merupakan anggota New Hampshire Air National Guard pulang bertugas dari daerah rawan konflik di Irak.