Taj Mohammad melarikan diri dari konflik perang Afghanistan ke sebuah pengungsian di pinggiran Kabul bersama istri dan 9 anaknya, salah satunya gadis cilik bernama Naghma yang berusia 6 tahun. Namun kehidupan tak membaik seperti yang diharapkan Taj, karena ia tak bisa mendapatkan pekerjaan. Di saat yang sama musim dingin tiba dan keluarganya mulai menderita, sang istri jatuh sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit, sementara anaknya yang masih berusia tiga tahun meninggal dunia karena membeku.

Bingung dan panik akhirnya Taj Mohammad memberanikan diri meminjam uang sebesar 2.500 dolar pada rentenir demi membayar biaya rumah sakit istri serta beban keluarga lainnya. Dan Taj benar-benar tak sanggup mengembalikan uang yang semakin lama bunganya bertambah besar. Dengan berat hati Taj menyerahkan Naghma untuk dinikahkan dengan anak lelaki sang rentenir yang berusia 19 tahun. Di luar dugaan, si kecil Naghma tak menangis sedikitpun atas keputusan ayahnya. Ia rela meninggalkan rumah demi sebagai pelunas seluruh hutang keluarganya.

Kisah Naghma diketahui aktivis kelompok hak asasi manusia dan meminta seorang pengacara AS Kimberley Motley yang telah bekerja di Afghanistan selama 5 tahun terakhir. Meski Kimberley tak bisa menolong secara langsung berkaitan kasus orang asing, namun ia tidak menyerah untuk memperjuangkan Naghma dengan melakukan negosiasi pada tetua di Afghanistan, serta mencari donatur untuk menyelamatkan Naghma.

Usaha Kimberley tak sia-sia, ia berhasil mengembalikan Naghma pada keluarganya dan membayar hutang Taj melalui dana yang ia peroleh dari donatur. Bahkan Kimberley mengusahakan agar Naghma dan saudara-saudaranya mendapatkan pendidikan yang layak. Keikhlasan Naghma sebagai penebus hutang orang tuanya, telah membawa segala kebaikan baginya kini.