16 tahun lalu, Jiefeng kehilangan satu-satunya anak yang dicintainya, Yang Ruizhe. Berada dalam kesedihan yang mendalam, Jiefeng akhirnya memutuskan untuk memenuhi cita-cita sang anak untuk menanam pohon di gurun pasir Arid Alashan, Mongolia. Maka Jiefeng dan suaminya pun menggunakan asuransi sang anak untuk membuat perusahaan bernama Green Life di tahun 2003, dan hingga saat ini ia sudah melakukan reboisasi selama 12 tahun!

Jiefeng bukanlah seorang yang mengerti tentang tanaman, sehingga saat awal-awal menanam jerih payah Jiefeng gagal total. Semua tanaman mati, begitu pula berikutnya. Namun Jiefeng tak kenal menyerah, ia selalu ingat akan cita-cita sang anak yang ingin melakukan penghijauan maka Jiefeng pun terus berjuang hingga tanaman yang ia tanam mulai tumbuh, meski tak 100%. Namun hal itu membuatnya bahagia dan semakin bersemangat. Ia percaya bahwa energi positif dari anaknya lah yang mampu membuat tanaman-tanaman tersebut tumbuh.

Bertahun-tahun Jiefeng menanam ladang tandus hingga hasil perjuangannya semakin jelas terlihat. Di tahun 2008, segala yang diusahakan oleh Jiefeng mulai menarik perhatian banyak orang. Jiefeng mulai mendapatkan sumbangan pendanaan, juga bantuan dari orang-orang sebagai relawan. Jiefeng percaya bahwa sang anak bahagia di sana, cita-cita yang dulu dimilikinya sanggup menjadi cita-cita bagi banyak orang sekaligus memotivasi dan menginspirasi. Dan semua orang pun tahu, Yang Ruizhe pasti akan sangat bangga kepada ibu dan ayahnya.