Besarnya cinta seorang ayah pada anaknya tak dapat digambarkan dengan kata-kata, itu juga yang membuat ayah dari Henry Rosario Martinez tak segera memakamkan anaknya yang telah meninggal dunia. Melainkan mengajaknya bermain poker beserta kerabat keluarga lainnya, sekaligus menjadi kebersamaan mereka yang terakhir kalinya.

Henry Rosario Martinez meninggal dunia di usia 31 tahun akibat minuman keras dan over dosis dalam pemakaian obat-obatan, namun hal itu tak mampu mengubah kecintaan sang ayah padanya. Apapun yang ia lakukan, ayahnya selalu mencintainya. Hingga di hari ia meninggal dan hendak dimakamkan, sang ayah meminta menunda pemakanan dan membuat acara permainan poker bersama sebagai salam perpisahan. Henry juga didandani seperti saat ia masih hidup, suasana duka yang biasa diwarnai isak tangis jadi berlangsung hangat dan penuh kenangan. Sang ayah memilih permainan poker, karena semasa hidup Henry menyenangi permainan tersebut dan sering bermain bersama.
Pihak yang mengurus pemakaman Henry menyatakan hal yang dilakukan oleh keluarga Henry tersebut bukanlah hal yang baru bagi mereka, banyak orang yang juga melakukan hal serupa untuk mengenang anggota keluarga yang meninggal dunia. Semacam tradisi bagi orang-orang tertentu, sisi baiknya adalah budaya tersebut membuat kematian seorang anggota keluarga tak dihantar dengan isak tangis, melainkan penuh dengan kehangatan dan kenangan yang akan menjadi ingatan manis terhadap si mendiang.