Saat Karlee Trafford pulang ke rumah, sepertinya tak ada yang janggal. Ia langsung duduk di sofa dan Jaxon, kucingnya, biasa menyambutnya di situ. Benar saja, kucing berumur 3,5 tahun itu melompat ke pangkuan Karlee tapi kali ini membuat Karlee terkejut karena mulut Jaxon terbuka lebar.

Karlee sempat menganggap Jaxon hanya main-main, tapi Jaxon tak juga menutup mulut hingga membuat Karlee panik. Ia berusaha menolong Jaxon menutup mulut, namun rahangnya seperti terkunci, dan Karlee tak mungkin menekan dengan paksa karena khawatir Jaxon kesakitan. Maka ia pun bergegas menuju klinik hewan terdekat, namun ternyata mulut Jaxon tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Karlee lega, dan merasa masalah telah selesai. Jaxon pun tampak biasa-biasa saja.

Namun di keesokan hari, kejadian serupa terulang lagi. Mulut Jaxon menganga tiba-tiba. Kali ini Karlee bersegera ke klinik, dan begitu sampai mulut Jaxon masih dalam keadaan terbuka sehingga dokter bisa meneliti keadaan Jaxon. Namun tak lama kemudian, mulut Jaxon mengatup rapat seperti kemarin. Dan Jaxon pun mulai gelisah minta pulang. Klinik memang bukan tempat favorit para hewan. Tapi tentu saja Karlee tak ingin meninggalkan klinik sebelum mengetahui penyebab mulut Jaxon terbuka tiba-tiba.

Para dokter ternyata baru mendapati kasus semacam Jaxon, karena memang cenderung langka. Menurut diagnosa mereka, Jaxon mengalami kejang mulut. Kondisi tersebut membuat otot mulut menegang sehingga mulut tak bisa ditutup, atau istilahnya “lockjaw”. Kejadian tersebut biasanya disebabkan oleh bakteri dari luka terbuka yang mengakibatkan infeksi . Kontaminasi bakteri dari luka tanpa pengawasan merupakan penyebab utama kucing mengalami kejang mulut.

Sebenarnya kucing rumahan seperti Jaxon sangat minim risiko mengalami kejang mulut, terlebih Jaxon telah divaksin. Namun kejadian tersebut secara tidak langsung menjadi himbauan bagi para pemilik kucing untuk waspada terhadap peliharaan mereka, karena mungkin terjadi pada kucing manapun. Langkah utama yang harus diambil saat terjadi kejang mulut adalah membawa kucing ke dokter. Meski kemungkinan besar mulut bisa menutup dengan sendirinya, namun tak menutup kemungkinan kucing akan mengalami kerusakan otot, selain itu dokter dapat menemukan pemicunya agar kejadian tersebut tak terulang lagi.