Sebenarnya kucing hanya memiliki 1 nyawa, sementara istilah “9 nyawa” dilatarbelakangi kemampuan mereka lolos dari kematian yang tak mungkin dihindari mahluk lain, apalagi manusia. Contohnya saja, jatuh dari ketinggian. Kucing sering kali selamat kan? Belum lagi kemampuan keseimbangan tubuh yang luar biasa, juga kemampuan lain yang mendukung anggapan “9 nyawa kucing” tersebut.

Satu hal yang belum banyak diketahui atas “awetnya” nyawa kucing, adalah kucing memiliki kemampuan mengejutkan dari sistem saraf pusat untuk memperbaiki diri sendiri dan mengembalikan fungsi.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2009, Prosiding National Academy of Sciences, tim peneliti dari University of Wisconsin-Madison menyatakan myelin, zat lemak putih yang membentuk selubung silinder meduler di sekitar sumbu dari beberapa serabut saraf, pada kucing dapat menyebabkan pemulihan fungsional. Dimana sistem syaraf pusat dapat memperbaiki dirinya sendiri. Dengan demikian myelin dapat menjadi terapi untuk mengobati berbagai penyakit yang berhubungan dengan saraf.

Contoh kasus yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah seekor kucing hamil mengalami disfungsi neurologis parah. Sehingga ia mengalami gangguan gerak, kehilangan penglihatan, kelumpuhan dan minim kesempatan hidup, tetapi setelah kucing mendapatkan pengujian efek dari perubahan pola makan dan pengobatan, perlahan kucing tersebut bisa kembali normal termasuk semua fungsi yang awalnya hilang pun dapat terpulihkan. Terkesan kucing memiliki nyawa cadangan bukan?

Makanan merupakan asupan penting bagi sistem syaraf kucing, maka kucing yang tercukupi kandungan nutrisinya akan memiliki kesempatan hidup lebih baik, bahkan akan mampu berkali-kali selamat dalam masa krisis penyakitnya. Mungkin lebih dari 9 kali, jadi “nyawa cadangan” kucing sebenarnya bisa lebih dari perumpamaan yang selama ini beredar dalam anggapan masyarakat.