Disebut kucing kanguru atau squitten, karena si kucing memiliki sepasang kaki depan yang kecil atau bengkok, atau kaki belakang yang lebih panjang dari ukuran normal. Sehingga mereka sering kali berdiri menggunakan kaki belakang menyerupai kanguru.

Alealani atau Lani adalah salah seekor kucing kanguru menggemaskan. Ia menjadi penghuni penampungan Saving Grace Rescue di San Fransisco, setelah ditemukan bersama saudara-saudaranya yang berusia 3 minggu. Lani bertubuh paling kecil, dengan sepasang kaki depan membengkok sehingga tidak bisa berjalan atau berdiri di atas empat kaki secara normal. Lani mengalami cacat bawaan radial hypoplasia, seperti yang dialami oleh kucing-kucing kanguru lainnya.

Kondisi tersebut terjadi akibat mutasi gen yang menyebabkan tulang gagal terbentuk sempurna. Tidak dibutuhkan perawatan khusus pada kucing dengan kelainan tersebut, karena kucing dapat tumbuh seperti kucing normal pada umumnya. Ia hanya lebih sering berdiri dibanding duduk.

Cheryl Bush, ibu asuh Lani, mengisahkan dalam keseharian Lani tak ubahnya seperti kucing lain. Ia mampu berlari dan melompat, meski tidak sempurna, tetapi Lani tak kehilangan semangat dan kelincahannya sebagai seekor kucing. Sebelum mengasuh Lani, Cheryl adalah ibu asuh bagi kucing kanguru lain bernama Kanga Roo, yang telah mendapat adopter.

Para kucing kanguru memang dapat segera beradaptasi dengan kondisinya, sehingga tak membuat repot pemeliharanya. Malah sebaliknya, para pemilik kucing kanguru lebih sering tersenyum dengan tingkah laku mereka.

Selain disebut kanguru, kucing-kucing dengan kelainan bawaan ini juga sering disebut tupai (squitten) karena kaki belakang mereka yang panjang. Namun apapun sebutannya, mereka tetaplah kucing yang senang berkejaran, penuh rasa ingin tahu, dan manja. Bedanya dengan kucing lain, mereka terlahir dengan bentuk fisik istimewa 🙂