Ketika pemilik kucing bernama Symba pindah ke panti jompo, penyelamat kucing dari Humane Rescue Alliance, Washington, membawa kucing berbulu jahe itu ke New York Avenue adoption center untuk menunggu keluarga barunya. Tapi tidaklah mudah bagi Symba menemukan keluarga baru dengan berat badan nyaris 18kg! Ya, Symba mengalami obesitas. Selama ini Symba terlalu dimanjakan dengan makanan, akibatnya selain susah bergerak kucing berusia 6 tahun itu terancam penyakit jantung.

Photo. Humane Rescue Alliance

Symba bukanlah satu-satunya kucing yang menderita obesitas. Dalam studi yang dilakukan oleh APOP (Association for Pet Obesity Prevention), secara rata-rata 50% kucing peliharan mengalami obesitas karena dimanjakan makanan oleh pemiliknya. Obesitas pada kucing terjadi seperti pada mamalia lain, termasuk manusia, yakni mengkonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibakar sebagai bahan bakar untuk energi. Sederhananya, makan banyak sebenarnya tidak masalah asal bergeraknya pun banyak.

Photo. Humane Rescue Alliance

Kucing peliharaan berpotensi obesitas karena mereka tak perlu bergerak untuk berburu guna mendapatkan makanan, ditambah lagi luasnya rumah tak seluas alam bebas, dan pemilik sering tak tega melihat mereka mengeong seolah tak diberi makan seminggu. Akhirnya asupan dan energi yang dikeluarkan tidak berimbang, maka mulailah lemak tertimbun berlebihan dalam tubuh.

Photo. Humane Rescue Alliance

Tidak ada takaran baku sebagai porsi yang tepat bagi setiap kucing. Bentuk badan dan perilaku mereka sehari-hari merupakan kunci yang menentukan porsi makan masing-masing kucing. Bila minim aktivitas, sebaiknya pemilik menyesuaikan dengan porsi dan frekuensi makan kucing, demikian pula sebaliknya. Menentukan pola diet pun tergantung pada kondisi masing-masing kucing.

Photo. Humane Rescue Alliance

Pada dasarnya kucing bisa makan sampai 21 kali sehari, tetapi 2 kali sehari pun bisa. Bahkan tak jarang dokter memberlakukan puasa makanan bagi kucing-kucing yang terlalu gemuk, mereka hanya diperbolehkan minum. Namun semua itu kembali pada kondisi si kucing. Bila kucing di rumah dalam keadaan sehat tetapi terlihat terlampau gemuk, mulailah mengurangi porsi makan. Jika tidak, dapat dengan mengurangi frekuensi makan 2 kali sehari saja, pagi dan malam, atau jeda 12 jam. Akan lebih baik lagi membujuk si kucing untuk beraktivitas fisik, misalnya berlari mengejar bola atau mainan lain.

Lisa Stemcosky, pakar perilaku dan pelatihan hewan, mengingatkan agar tidak membuat kucing stres saat menjalani diet. Symba pun masih bisa menikmati cemilan-cemilan saat menjalani diet, namun ia baru bisa mendapatkan bila mau berjalan. Symba tetap ramah pada semua orang. Dia memang manis dan sangat menggemaskan, tak seorang pun ingin Symba menderita karena hobinya terhadap makanan. Siapapun yang menyayangi kucing hendaknya menjaga berat badan kucing dengan baik, agar kualitas hidup kucing pun menjadi lebih baik. Cepat sehat kembali ya, Symba!

Photo. Humane Rescue Alliance