Ketika terjadi tsunami dikabarkan beberapa jam sebelumnya banyak hewan gelisah, 2 ekor anjing yang sehari-hari bermain di pantai Galle Srilanka tak mau mendekati pantai di hari terjadinya tsunami. Hewan memiliki indera super sensitif terhadap suara, temperatur, sentuhan, getaran, aktivitas elektrostatis dan kimia juga medan magnet serta medan listrik. Sensitivitas tersebut membuat mereka dapat mengetahui adanya bencana lebih awal ketimbang manusia.

Di kejadian gempa berskala 6.5 di California terekam seekor anjing bernama Sophie yang sehari-hari ikut ke kantor bersama pemiliknya. Namun hari itu, Sophie enggan ikut. Bahkan rewel di rumah, sampai-sampai si pemilik hampir tak jadi ke kantor. Tetapi akhirnya Sophie mengalah, namun ia tak setenang biasanya.

Sophie tampak gelisah sejak berada di kantor dan tak mau jauh dari pemiliknya. Hingga keanehan sikap Sophie terjawab ketika mendadak ia melompat dan lari. Hal itu membuat kaget pemiliknya dan ikut lari, sedetik kemudian ruangan bergetar. Gempa terjadi. Berkat Sophie tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Meski tampak Sophie berlari paling dulu, namun ternyata ia menunggu dan menjaga mereka yang menyelamatkan diri untuk keluar gedung.

Anjing dapat mendeteksi frekuensi infrasonic antara 1-3 hertz dibandingkan manusia hanya pada frekuensi 100-200 hertz, sehingga perubahan alam dapat mereka deteksi. Namun seberapa sering manusia memerhatikan hewan sehingga mampu memahami bahwa mereka memberi pertanda bencana yang akan terjadi?