Sering kali manusia berpikir bahwa hewan memberikan ekspresi sama seperti manusia. Contohnya ketika anjing membuat lengkungan ke atas di bibir dengan wajah jenaka, langsung terpikir anjing sedang dalam suasana hati gembira layakya manusia. Padahal belum tentu.

Di tahun 2012 sekelompok ahli saraf meneliti substrat saraf pada anjing peliharaan dan menemukan bahwa mereka memiliki kesadaran dan emosi. Dimana anjing mampu menunjukkan emosi mereka dengan bahasa tubuh yang memengaruhi otot-otot wajahnya. Anjing dalam kondisi santai dan nyaman atau dapat diartikan bahagia, membuat mulut mereka terbuka dan sudut-sudut mulut mengarah ke atas.

Namun K.C. Theisen dari Humane Society, Amerika, tak semua ‘senyum’ anjing menyatakan keramahan, sehingga manusia sebaiknya tetap berhati-hati untuk mendekati anjing yang tak mereka kenal meski berwajah ceria. Karena anjing tetap harus mengenali seorang yang mendekatinya, tidak serta merta ramah pada semua orang. Hal tersebut didukung pula oleh para ahli yang mengatakan bahwa emosi hewan sebenarnya tak mudah dibaca, mereka bisa menunjukkan dengan beragam bahasa tubuh yang tak mudah didefinisikan seperti halnya manusia.

Namun anjing yang telah lama hidup berdampingan dengan manusia dan memiliki banyak pengalaman positif selama hidupnya, akan belajar atas pengalaman tersebut untuk memiliki pola pengungkapan emosi yang kurang lebih sama sebagai upaya anjing mengomunikasikan perasaan mereka. Termasuk pada manusia sendiri, dari penelitian diketahui orang-orang yang memiliki hubungan dengan anjing lebih merasakan makna bahagia, dibanding yang tidak. Tanpa disadari anjing pun memengaruhi manusia terdekatnya dalam mengartikan kebahagiaan secara lebih luas.